Lapas Sukamiskin Bandung, Penjara Khusus Koruptor

PoskoNews.com – Tahun 2012, Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Kota Bandung, Jawa Barat, resmi menjadi penjara khusus untuk menampung para koruptor. Semua narapidana koruptor dari seluruh Indonesia akan ditahan di Lapas ini.

Hingga tahun 2013, napi kasus Tipikor yang sudah menghuni Lapas tersebut berasal dari Jakarta, Jawa Tengah, Banten, Yogyakarta, Sulawesi Utara, hingga Aceh, dan lain lain.

Kurang lebih masyarakat mengenal Lapas Sukamiskin sebagai penjara khusus koruptor, tapi Jika melihat dari kacamata sejarah, Lapas Sukamiskin bisa dikategorikan sebagai bangunan bersejarah yang ada di Kota Bandung.

Bagamana tidak, Lapas Sukamiskin ternyata sudah berdiri sejak zaman kolonial Belanda dan telah menjadi saksi bisu para pejuang Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Lapas Sukamiskin dibangun sejak tahun 1918. Pembangunan Lapas memakan waktu yang cukup lama hingga baru difungsikan tahun 1924.

Pembangunan penjara memang berbanding lurus dengan kemajuan perkotaan. Oleh karena itu, pembangunan penjara sangat diperlukan dalam rangka membina kesetiaan masyarakat jajahan kepada pemerintahan kolonial untuk menghindari pembangkang.

Awal nama Lapas Sukamiskin adalah Straft Gevangenis Voor Intelectuelen yang berarti Penjara untuk Kaum Intelektual.

Memang pada saat itu, Lapas ini ditujukan untuk para tahanan Eropa dan kaum intelektual pribumi. Penamaan Sukamiskin pun muncul dari sebutan masyarakat sekitar. Asal penamaan Lapas Sukamiskin pun tidak diketahui secara jelas dalam sejarah.

Menurut Sejarawan Unpad, Dr. Mumuh Muhsin Z, terdapat dua asumsi asal muasal nama Lapas Sukamiskin.

Asal nama Sukamiskin secara epistimologis berasal dari bahasa Arab, suq yang berarti pasar dan misk yang berarti minyak wangi.

Dahulu, terdapat salah satu pesantren tertua di Bandung yang berlokasi di Sukamiskin. Makna dari kata pasar dan parfum memiliki dua asumsi. Asumsi pertama, daerah tersebut merupakan pasar minyak wangi.

Asumsi kedua, pengertian pasar minyak wangi adalah perumpaan bagi sebuah pesantren tertua yang ada di daerah tersebut kala itu bernama Pesantren Sukamiskin.

Pesantren tersebut diumpamakan sebagai wangi parfum yang mengundang para santri untuk berguru disana.

“Itu dua asumsinya. Yang pasti bukan dari bahasa Indonesia ‘suka’ dan ‘miskin’. Tidak ada orang yang suka miskin,” candanya.

Lokasi Lapas Sukamiskin pada zaman Belanda merupakan kawasan di luar kota, sehingga untuk sampai ke Lapas seluas dua hektare dan memiliki lebih dari 500 kamar ini membutuhkan perjalanan yang cukup lama. Walaupun demikian, penjara Sukamiskin termasuk dalam penjara yang mewah pada masanya.

Penjara Sukamiskin memiliki nilai historis yang tinggi karena Presiden pertama Republik Indoesia, Ir. Soekarno pernah mendekam di sana pada tahun 1930. Selama berada di Penjara Sukamiskin, Soekarno lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca dan menulis.

“Bung Karno dan tahanan lainnya tidak mengalami kekerasan fisik selama berada di sana (Penjara Sukamiskin),” tutur Mumuh, “hanya ia merasa kesepian karena kurangnya bacaan.”

Menurut Mumuh, saat itu buku memang diangggap sebagai barang terlarang di dalam penjara sehingga Soekarno memiliki keterbatasan akses untuk membaca berbagai literatur. Namun, istri kedua Soekarno, Inggit Garnasih, tetap setia menjenguk suaminya.

“Ketika menjenguk, Inggit selalu membawakan Soekarno makanan dan buku. Untuk menyelundupkannya, Inggit selalu menyimpan buku di balik kain bajunya,” jelas Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Jawa Barat ini.

Lalu, selain Soekarno, siapa sajakah pahlawan Indonesia yang pernah dipenjara di Penjara Sukamiskin?

Mumuh mengaku tak ada cukup data untuk membuktikan siapa saja yang pernah mendekam di Penjara tersebut selain Soekarno.

Sangat disayangkan, tidak ada data Napi lainnya yang pernah dipenjara disana selain Soekarno. Mungkin karena Soekarno pernah disana, sehingga yang diekspos hanya Soekarno saja,” ungkapnya.

Sepengetahuan Mumuh, beberapa pejuang lain yang pernah dipenjara disana diantaranya Gatot Mangkupraja, Soepriadinata, Maskun Sumadiredja, dan KH Zainal Mustafa.

Sampai zaman pemerintahan Jepang, Penjara Sukamiskin tidak mengalami perubahan berarti, baik dari segi fisik maupun fungsinya.

Hingga sekarangpun, tidak banyak bagian bangunan yang diubah. Hanya ada sedikit modifikasi patung dan bangunan terpisah untuk penambahan jumlah ruangan bagi para petugas penjara.

Mumuh merasakan bahwa Pemda Kota Bandung tidak menaruh perhatian yang cukup besar kepada Penjara Sukamiskin sebagai bagian dari sejarah Indonesia.

“Kalau di luar negeri, tempat-tempat seperti itu malah diabadikan dan dijadikan objek wisata,” tambahnya.

Penjara Sukamiskin memang sudah dijadikan objek wisata pada tahun 2012, tapi birokrasi yang menyulitkan penikmat sejarah membuat tempat ini menjadi agak sulit untuk dikunjungi.

Sebagai seorang sejarawan, Mumuh berharap agar departemen terkait menuliskan sejarah Penjara Sukamiskin dan bisa diketahui oleh masyarakat luas.

Selama ini, tidak ada data khusus mengenai Penjara Sukamiskin di berbagai sumber dan hanya disebut sekilas saja jika nama Soekarno disebut.

Sejarawan yang juga mengajar di Program Magister Ilmu Sejarah Unpad ini juga sangat berharap agar Penjara Sukamiskin dijaga keberadaannya. “Jangan seperti Penjara Banceuy yang dibongkar menjadi pusat pertokoan,” imbuhnya sambil menutup diskusi. (Yth)

Sumber:citizenmagz.com

LEAVE A REPLY