Kampung Wisata Koto Ranah, Dari Penghasil Pete Sampai Menggapai Matahari Di Puncak Ranah

PoskoNews.com – Desa yang berada di dataran kaki bukit Suligi ini awalnya berhawa sejuk, sehingga daerah ini banyak tumbuh pohon pete, dialek masyarakat disana menyebutnya dengan potai.

Seiring dengan perkembangan, kampung ini pun mulai dihuni banyak penduduk, hawa daerah berubah menjadi panas, pohon potai semakin berkurang, akhirnya saat ini tinggal beberapa pohon lagi di sudut sudut kampung.

Dalam perkembangan selanjutnya, Daerah ini pun menjadi suatu Desa yang bernama Koto Ranah, Kecamatan Kabun, Rokan Hulu, Riau.

Lingkungan Desa yang berjarak 6 km dari jalan lintas Bangkinang Pasir Pengaraian itu, saat ini sudah berjalan aspal, untuk sampai ke objek wisata kaki bukit Suligi pun dari Desa ini hanya berjarak antara 5 – 6 km.

Penduduk yang hidup dengan perkebunan ini masih terlihat menjunjung adat kebiasaan yang kental, sebagai warisan dari leluhur mereka.

Loading...

Hal ini terbukti dengan masih adanya ogong (Gong) kramat yang di pakai sekali setahun pada waktu hari raya idul fitri, dengan melaksanakan prosesi adat.

Meriam kecil yang disebut lelo masih dapat di ledakkan dengan mesiu memperkuat bukti kampung ini berdiri dan ada sejak lama, di tambah dengan baru-baru ini ditemukan Naskah kuno tulisan tangan seorang alim dengan arab melayu memakai kertas bahan eropa.

Konon naskah ini ditulis oleh H. Janggut di Mekkah yang tersimpan secara turun temurun.

Buku ini berisikan pendekatan kepada sang khalik dan peribadatan, pengobatan serta senjata pergaulan dalam kehidupan ke masyarakatan.

Kekentalan adat dan agama masyarakat terlihat pula di desa yang berbatasan langsung dengan kabupaten tetangga Kabupaten Kampar itu.

Masyarakat tetap menjunjung tinggi adat, Datuk adat masih pihak penentu dan di segani serta di patuhi oleh masyarakat.

Sehingga Sampai pelaksanaan tradisi adat di sandingkan dengan tradisi agama, salah satu diantaranya adalah melaksanakan “budikiu” atau berzikir.

Memang zikir bukanlah sesuatu hal yang unik dan asing untuk agama Uslam, dimana mana selalu dilaksanakan.

Akan tetapi di daerah ini keunikannya terletak pada sangsi bagi masyarakat yang tidak melaksanakan.

“Dikiu” yang dilaksanakan seminggu setelah lebaran idul fitri itu diiikuti oleh seluruh masyarakat, pada hari itu masyarakat dilarang keluar desa dan melaksanakan usaha di pertanian dan perkebunan mereka.

Semua masyarakat mematuhinya, bagi yang tidak patuh akan di beri sangsi adat.

Keunikan masyarakat yang menjaga adat istiadat secara kental ini di tambah dengan adanya peninggalan bersejarah yang masih dapat di pakai dan terpelihara dengan baik.

Tidak kalah unik dan menariknya desa atau kampung yang berjarak kurang dari 100 km dari ibu kota provinsi Riau, Pekanbaru, dan 80 km dari ibu kota kabupaten Rokan Hulu Pasir Pengaraian serta 50 km dari Ibu kota Kampar Bangkinang ini, sekarang mempunyai destinasi wisata alam diperbukitan Suligi dengan melihat matahari terbit dan terbenam di ketinggian 900 mdpl.

Berada di destinasi ini pengunjung bagai berada di atas awan di hiasi air bendungan PLTA Koto Panjang di bawahnya disertai hamparan hutan dan pohon bukit suligi, dan seolah olah dati tempat yang di capai melalui berjalan kaki lebih kurang 1-1.5 jam tersebut dapat menggapai matahari.

Destinasi wisata “Menggapai matahari di puncak Ranah” ini sangat tepat bagi petualangan, pencinta alam dan kawula muda untuk bersensasi.

Lokasi yang sebelum dan sesudah pendakian melintas sungai kecil yang jernih dan bersih menambah suasana alam nan kental serta sekalian menikmati kebesaran ciptaan sang Ilahi.

Sehingga wajar dengan keunikan wilayah dan kemurnian serta kekentalan kehidupan masyarakat dengan tradisi dan adat istiadatnya di tambah dengan keaslian alam yang asri, Desa ini di jadikan kampung wisata di Kabupaten Rokan Hulu, yang di canangkan Bupati Rokan Hulu, H. Sukiman tanggal 22 Februari 2018 yang lalu.

Kampung wisata ini di harapkan akan dapat menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara dengan spesifik dan keunikan yang dimiliki.

Sehingga memberikan kemajuan dan perkembangan yang berarti bagi masyarakat dan desa nya serta dapat memberikan kontribusi positif untuk kemajuan Kabupaten Rokan Hulu ke depan.

Semoga harapan ini menjadi kenyataan. (Drs Yusmar M.Si Dan Rizal Putra Thamrin)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan