Situs Makam Tengku Joman Di Lubuk Bendahara Menyimpan Makna Sejarah Luar Biasa

ROHUL,PoskoNews.com – Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau ternyata memiliki kekayaan situs cagar budaya yang menyimpan cerita sejarah masa lalu yang luar biasa.

Seperti yang ditemukan Di desa Lubuk Bendahara,  Kecamatan Rokan IV Koto, yakni, Situs Makam Bintang Tengku Joman.

Makam Tengku Joman Yang berbentuk susunan jirat, sepintas meyerupai bentuk bintang, dimana masing-masing sudutnya mengandung arti filosofi melambangkan lima Suku yang mendiami di Desa Lubuk Bendahara.

Kelima suku tersebut, Suku Mandahiling, Melayu Chaniago, Piliang, dan Patapang. Pada puncak jirat terdapat sebuah nisan berbentuk “pattaka” yang di letakkan di tengah-tengah bangunan makam.

Situs Makam Bintang Tengku Joman, salah satu bukti sejarah gemilang yang masih ada dan tetap terjaga keberadaannya sampai saat ini.

Loading...

Apalagi keberadaanya dilindungi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batu Sangkar, Wilayah Kerja Provisi Sumatera Barat (Sumbar), Riau dan Kepulauan Riau (Kepri),

Makam Tengku Joman atau dikenal makam Bintang atau makam Tinggi, berada di kawasan pemakaman umat muslim persis berada di depan masjid raya Al Jihad Dusun Kampung Tengah, Desa Lubuk Bendahara, Kecamatan Rokan IV Koto.

Makam Tengku Joman, merupakan bukti sejarah tahun 1800 an silam, berada di dalam pagar besi dengan ukuran 17,95 meter x 16,65 meter,

Siapakah Tengku Joman ?. Dari cerita dan bukti sejarah turun temurun yang diyakini masyarakat, Tengku Joman merupakan salah seorang pembesar di kerajaan Rokan, yang sangat disegani dan dihormati khususnya di Rokan IV Koto.

Kementrian pendidikan dan Kebudayaan melalui website nya  kebudayaan.kemdikbud.go.id,  menyeburkan tentang situs Makam Tengku Joman ini.

Bangunan makam Tengku Joman, dikelilingi parit yang lebarnya 2 meter, dimana panjang rata-ratanya 14 meter dan tinggi 55 centi meter.

” Di area lingkungan makam itu, tidak hanya ada makam Tengku Joman, namun juga setidaknya ada 6 makam lainnya yakni satu di bagian utara, dua di bagian selatan, dua bagian barat dan satu di bagian timur makam,” kata Yusro Fadli, Kepala Desa Lubuk Bendahara.

Bentuk Jirat makam Tengku Joman termasuk unik, terdiri dari 3 tingkat dengan bentuk dan ukuran yang berbeda.

Jirat yang terbuat dari susunan batu kali yang masih intact, pada jirat pertama/dasar berbentuk segi empat dengan panjang 5 meter.

Sedangkan jirat yang kedua berbentuk belah ketupat dengan ukuran panjang 3,25 meter, lebar 3,20 meter dan tinggi 0,28 meter.

Sementara pada jirat ketiga berada paling atas dengan bentuk segiempat mempunyai panjang 1,92 meter, lebar 19,2 meter dan tinggi 0,23 meter.

Nisan makam terbuat dari batu granit warna abu-abu kehitaman. Nisan kepala dan nisan kaki memiliki ukuran yang hampir sama. Nisan berukuran tinggi 25 centi meter, diameter 10 centi meter.

Menurut cerira yang digali dari warga Lubuk Bendahara, bahwa awal sejarah adanya Desa Lubuk Bendara, terkait dengan kampung yang dihuni warga dari kampung Dalam.

Dimana kampung itu, merupakan warga Bungo Tanjung yang ada di seberang sungai Rokan dan kini Desa Lubuk Bendahara Timur, Kecamatan Rokan IV Koto.

Saat itu, anak Datuk Bendahara hilang di Sungai Rokan. Saat itu dibawa ibunya yang tengah mencuci kain. Dari sejarah dan kepercayaan, anak Datuk Bendahara dibawa Ula Bidai.

“Ketika itu, Datuk Bendahara bermimpi. Dikatakan dalam mimpi, agar anaknya diganti taka (guci) omeh (emas), dengan syarat taburkan darah kobou (kerbau) putih,” kata warga bernama Hajrul Aswad dan Lukman Hakim

Setelah itu, Datuk Bendahara menaburkan darah kerbau putih ke sungai Rokan, namun darah kerbau diganti dengan minyak kayu ubar.

Tepat  jam 11 siang. keluarlah Taka omeh, kemudian diikat dengan tali ijok diletakkan atau digantung diawah rumah panggung, dengan syarat tidak boleh dibicarakan ke orang.

“Namun Saat itu, Datuk Bendahara bercerita ke orang-orang, sehingga marahlah Ula Bidai dan disepklah Taka Omeh itu.

Singkat cerita, akhirnya Datuk Bendara pindah ke seberang dan menjadi Kampung serta jadi nama Desa Lubuk Bendahara,” cerita Lukman hakim.

Terlepas dari itu semua,  Yusra Fadli selaku Kades Lubuk Bebdahara berjanji untuk mengupayakan secara bertahap akan memaksimalkan situs cagar budaya yang ada termasuk kekayaan alam di desanya, sehingga bisa dikelola sebagai objek wisata.(Rpt)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan