Tradisi “Mungacau” Itak, Lambang Gotong Royong Warga Melayu Rokan

PoskoNews.com – Di keheningan Subuh beberapa hari menjelang lebaran Idul Fitri, dari beberapa rumah penduduk di suatu kampung pelosok wilayah Tambusai, Rokan Hulu (Rohul), Riau, terdengar hiruk pikuk warga memarut kelapa. Suara parutan daging kelapa beradu dengan kukuran besi, bagai irama yang sahut menyahut.

Penghuni rumah yang baru saja selesai makan sahur itu, bergantian memarut (mungukuo- dialek melayu Rokan Red) kelapa yang berjumlah belasan buah. Hasil Parutan kelapa itu akan dijadikan santan pembuat makanan yang dinamakan ITAK.

Sementara beberapa penghuni rumah yang lain atau dibantu tetangga terlihat sibuk menumbuk beras untuk dijadikan tepung di dalam lesung.

Dua tiga orang menghayunkan alu ke mulut lesung secara bergantian, sehingga menimbulkan bunyi atau irama yang mengasyikkan secara tingkah meningkah.

Tradisi Membuat makanan yang bernama ITAK sudah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun. Dilakukan Hampir Semua Rumah Di Kampung Kecil Tambusai itu dan kampung kampung lainnya di wilayah Melayu Rokan Hulu sampai ke Rokan Hilir.

Loading...

Belum didapat Referensi resmi kenapa makanan mirip Dodol di Jawa dan Galamai Di Ranah Minang itu, dinamakan ITAK.

Konon kabarnya nama ITAK ini berasal dari LITAK dari bahasa Melayu Rokan yang berarti Letih.. Capek.. Loyo.. Karena begitu sulit dan merepotkannya membuat paganan Khas ini, sehingga membuat orang yang membuat atau memasaknya Jadi Litak = Letih = Loyo.

Dulu ITAK Merupakan Hidangan Wajib Setiap Rumah penduduk untuk Lebaran , Tidak Peduli Status dan Jabatan. Itak Bukan Hanya Sekedar Panganan. Itak Melambangkan Sifat Gotong Royong dan Toleransi Antar Penduduk.

Membuat Itak Bukan Gampang, Perlu Kerjasama, Mulai Memarut Kelapa, memeras santan , mengaduk (mengacau) didalam kuali besar (kancah) perlu beberapa orang, Api memasaknya pun harus dijaga, prosesnya bisa berlangsung selama 10 sampai 12 jam, dimulai sesudah sahur, selesainya baru mendekati waktu berbuka.

Pembuatan Itak Digilir Sesuai Jadwal Yg Disepakati Diantara Tetangga, Untuk Kaum Bapak Kebagian Tugas Memasang Tenda (dagau), Memeras Kelapa, Membuat Tungku, Mengaduk (mengacau)., dan Membangkit. Sedangkan ibu-ibu Memarut (mengukuo) , Menjaga api, dan Memasukkan Itak Kedalam “upieh”.

Makanan ciri khas jenis Itak yang dibuat menggunakan tepung, gula pasir, gula merah, dan santan juga menjadi sajian khusus dalam acara-acara tertentu, tapi yang wajib ada itu saat lebaran Idul Fitri dan Idul Adha.

“Misalnya, dalam acara Sunatan, Aqikah anak, resepsi Pernikahan, Hari lebaran Aidil Fitri, Hari Lebaran Aidil Adha, dan lain sebagainya, paling ramai warga membuat Itak itu saat menyambut Aidil Fitri, Ya, seminggu jelang lebaran, hampir seluruh warga membuat itak itu” kata Tengku Afri, Ketua Lembaga Kerapatan Adat (LKA) Tambusai.

Diterangkannya, membuat itak itu sering dilakukan secara gotong royong. Sebab, untuk membuat 5 Kg itak saja bisa memakan waktu 10 jam untuk mengaduknya diatas tungku besar.

“Disini pulalah menariknya kekompakan dan kebersamaan kita,”paparnya.

Mengacau itak tersebut memerlukan pendayung dari besi atau memakai batang pinang yang di belah,’ di kacau di ateh tumang (tungku) dari kayu kondung, Setelah Itak masak, kaum ibu lalu membungkusnya dalam wadah bernama daun upieh dari pelepah daun pinang.

Sebagian juga dimasukkan ke dalam tempurung kelapa yang sudah dibersihkan untuk disimpan.

“Itak yang disimpan dalam daun upieh atau dalam batok kelapa yang biasa disebut dengan guloman itu, akan awet dan tahan berbulan bulan, bahkan sampai setahun,” jelas Afri.

Namun, saat ini tradisi membuat dan mengacau Itak itu, tidak lagi seperti puluhan tahun lalu, sekarang makanan itu hanya dibuat oleh segelintir penduduk saja, sesuai perkembangan zaman, warga lebih memilih membuat makanan yang praktis atau dibeli di swalayan atau toko.

Padahal, tradisi “Mengacau” Itak itu melambangkan sifat kegotong royongan dan toleransi antar sesama, sehingga perlu dilestarikan dan bisa menjadi even wisata tradisi dan wisata kuliner, kalau perlu diadakan perlombaan tahunan, sebagaimana halnya festival lampu colok atau lomba pawai malam takbiran. (Rizal Putra Thamrin)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan