Khutbah I’dul Fitri: UKHUWAH SEJATI, MEMBANGUN NEGERI DALAM CINTA ILAHI

‎إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، ‎وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا،

‎مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

‎﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

‎﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾

‎﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾

‎أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وكلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Kaum muslimin rahimakumullah

Alangkah indahnya pagi ini, kita gemakan takbir yang membahana, kita lantunkan pujian pada Allah dengan segenap jiwa, hingga hilang semua duka, hingga terhapus semua nestapa, dan mekarlah semua bahagia.

Kita syukuri semua nikmat lalu kita panjatkan puji syukur kita kepada Allah, dan mungkin puji syukur kita itu lebih bernilai bagi kita disisi Allah, lebih dari nikmat itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Negeri ini yang demikian indah, demikian kaya, gunung- gunungnya yang tinggi menjulang, lautnya yang menghampar luas, lembah, ngarai dan sawahnya yang membentang elok,sungguh karunia Ilahi yang teramat berharga untuk disia- siakan.

Selalu terkenang bagaimana dahulu jiwa-jiwa beriman yang demikan tegar dan teguh merebut dan mempertahankan kemerdekaan negeri ini, dengan segenap kekuatan yang dimiliki dengan harta, bahkan darah dan air mata.

Demi kemerdekaan itu, entah berapa ribu negeri ini mempersembahkan para syuhadanya dalam titian masa yang hingga beratus tahun hingga tanahnya  demikian subur bagi agama Allah yang mulia ini.

Suara anak-anak yang mengeja huruf Al-Quran, suara adzan yang menggema berpadu dengan denting pedang dan lembing yang beradu bersama letusan senapan dan mitraliur, itulah sketsa sejarah Jihad di negeri ini, hingga penjajah durjana hengkang dan terusir bersama kesombongan dan kekufurannya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Saat ini, di zaman ini, di negeri ini, saat negeri ini berada di persimpangan jalan, antara poros kebenaran dan poros kebatilan, antara pengusung agama Allah dan pengusung materialisme, maka saatnya anak cucu generasi beriman tampil ke depan mengambil alih kendali, menentukan arah baru negeri ini sebelum terlalu jauh menyimpang.

Bukankah itu telah menjadi janji Allah Ta’ala yang janjinya pasti terpenuhi.

﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴾

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nur : 55)

Sesungguhnya saat nilai-nilai iman dan Islam yang mengendalikan negeri ini, saat itulah kesejahteraan yang sesungguhnya, saat itulah kemakmuran yang sejati, dan itulah pembangunan yang seutuhnya pada manusianya dan pada tanah air mereka. Iman, Islam dan taqwa adalah pintu- pintu keberkahan.

‎﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَآءِ وَالأَرْضِ﴾

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al A’raf : 96)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum muslimin, a’aanakumullah

Membangun negeri bagi para pengusung iman dan kebenaran bukanlah persoalan sederhana, benar di sana ada harapan, namun di sana tidak sedikit halangan dan aral yang melintang bahkan pengusung kebatilan senantiasa bersinergi dan memperkuat diri bahkan dengan piawai menggoda sebagian pengusung iman dan kebenaran itu. Wallahul Musta’an.

Salah satu benteng orang-orang beriman yang mutlak diperkuat dan dijaga terutama dalam kondisi seperti ini adalah benteng ukhuwah dan kebersamaan.

Ukhuwah dan kebersamaan adalah kekuatan dan berkah.

Ukhuwah dan kebersamaan adalah solusi dari banyak masalah.

Ukhuwah dan kebersamaan adalah kemajuan dan modal utama keberhasilan.

Mewujudkan itu semua juga perlu kerja keras, perlu kesabaran, perlu inayah dan i’aanah dan pertolongan Allah.

﴿ وَاعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ اللّٰـهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَاذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ اللّٰـهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ    أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰـهُ لَكُمْ ءَايٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ﴾

“Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah kalian bercerai berai dan ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika kalian saling bermusuhan kemudian Allah satukan hati kalian sehingga kalian menjadi bersaudara, dan ketika kalian berada di tepi jurang neraka maka Allah selamatkan kalian, demikianlah Allah menunjukkan tanda kekuasaan-Nya semoga kalian mendapatkan petunjuk.” (QS Ali Imran ; 103)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Ukhuwah dan Persaudaraan sejati berupa Ta’liful Qulub (berpadunya hati)  sejatinya adalah karunia Ilahi yang telah digariskan oleh-Nya kepada hamba-hamba Allah yang terpilih.

Hamba- hamba-Nya yang bertauhid dan beraqidah lurus.

Hamba-hamba-Nya yang menyembah Allah dengan sebaik-baiknya dan sebenar- benarnya.

Dunia beserta segala isi tak bisa membeli sebuah persaudaraan, namun sekali lagi itu merupakan anugerah Ilahi

﴿وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾

“…dan (Allah سبحانه و تعالى) Dia-lah Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfaal [8] : 63)

Namun pun demikian, Allah dan Rasul-Nya yang mulia telah memberikan petunjuk untuk mewujudkan ukhuwah yang hakiki itu bagi orang- orang yang beriman.

Cara utama dan pertama adalah dengan memperbaiki hubungan dengan Allah, menetapi syariat dan aturan-Nya, sebagian salaf mengatakan: perbaikilah hubunganmu dengan Allah, niscaya Allah memperbaiki hubunganmu dengan sesama manusia.

Diantaranya yang terpenting adalah menjadikan interaksi antar orang beriman dipenuhi kasih sayang, saling percaya, berlaku adil dan menghindar dari sikap hasad dan dengki, sabda Nabi:

لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً. الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَهُنَا –وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ ) رواه مسلم(

“Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling membenci dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu di sini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya dan kehormatannya (HR. Muslim).

Petunjuk Nabawi yang tentunya adalah wahyu Ilahi ini menjadi dasar bagi  kita dalam mewujudkan ukhuwah sejati itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin yang berbahagia.

Mewujudkan ukhuwah juga sangat terkait sejauh mana kita memperindah akhlak dan perilaku kita, Ibnu Qudamah Al Maqdisi dalam kitabnya yang masyhur “Mukhtasar Minhaj al Qasidien” mengatakan: “Persatuan adalah buah dari akhlak yang baik, perpecahan adalah buah dari akhlak yang buruk”

Akhlak sejatinya adalah buah dari aqidah yang kuat dan iman yang mendalam. Semakin kuat iman seseorang maka akhlaknya pun seharusnya semakin baik dan indah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin a’azzakumullah.

Kebutuhan kita akan persatuan dan ukhuwah semakin besar saat kita menengok kondisi global umat Islam hari ini, saat musuh  sudah di depan mata tidak pantaslah kiranya kita merawat perselisihan dan mematangkan perseteruan.

Palestina dan Masjidil Aqsha, Suriah, Rohingya dan setumpuk duka kaum muslimin belum mampu kita enyahkan, maka tak pantas kiranya kita saling berselisih untuk permasalahan yang remeh temeh.

Mereka semua berharap agar dari Negeri ini, yang 200 juta penduduk muslimnya bersatu, berukhuwah saling bersinergi lantas menjadi episentrum (kekuatan) umat dan memenangkan pertarungan ini.

Negeri ini adalah negeri harapan, negeri yang penduduknya penuh cita – cita mulia.

Wujudkan itu semua dengan semangat persatuan.

Wujudkan itu semua dengan ketaatan mutlak kepada Allah.

Wujudkan itu semua dengan akhlak yang mulia.

Teror dan angkara murka tidak akan menggoyahkan jiwa-jiwa beriman, tak akan mengotori kebersihan jiwa para pengusung kebenaran, walau sesaat dia muncul menyebar fitnah, namun kebenaran tak mungkin bisa terkalahkan biiznillah, katakan kepada para pengatur teror dan kejahatan, kalian takkan bisa membakar matahari.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum Muslimin A’aanakumullah...

Diantara buah manis ukhuwah adalah terwujudnya Tanaashur, yaitu sikap saling tolong menolong.

Membangun negeri ini dan membangun dunia yang diridhai Allah berarti membangun dan menguatkan sikap dan sifat Tanaashur ini.

Hal itu berarti kita saling tolong menolong dalam ketaatan dan kebenaran.

Hal itu berarti kita saling tolong menolong dalam mencegah kemungkaran. Sejatinya jika kita mencegah saudara kita dari kezaliman dan kemungkaran berarti kita menolong dia untuk terhindar dari sesuatu yang sangat membahayakannya. Bukankah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :

انصُرْ أخَاكَ ظالِمًا أو مظلومًا

“Tolonglah saudaramu dalam keadaan dia berbuat zalim atau ia dizalimi” (HR. Bukhari & Muslim).

Menolong saat ia berbuat zalim adalah mencegahnya berbuat zalim dan mungkar.

Dan Tanaashur tentunya berarti memberi pertolongan kepada saudara kita yang membutuhkan, terutama kepada saudara kita yang terzalimi karena iman dan Islamnya

﴿وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ  فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ﴾

“Dan jika mereka meminta pertolongan padamu dalam urusan pembelaan terhadap agama ini, maka wajib atasmu memberi pertolongan”(QS. Al-Anfaal :72).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha ilallah wallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Kaum muslimin, a’aazakumullah

Di era kemajuan teknologi komunikasi saat ini, yang ditandai dengan alat- alat komunikasi yang teramat canggih, kadang kita luput dan lalai, hingga tidak bijak menggunakannya, bahkan tidak sedikit yang terjatuh hingga ke lubang-lubang kehinaan dengan smartphonenya.

Mari, sebagai alumni Ramadhan kita kembali menjadi pengguna alat komunikasi canggih ini untuk kebaikan dan sebagai alat perjuangan.

Khusus kepada para pemuda harapan umat dan bangsa, bangkitlah, ambillah peran terdepan dalam perjuangan, jadilah prajurit kebenaran gagah perwira.

Dan kepada para ibu dan bapak, bagi setiap anaknya, setiap benteng keluarga bagi mata hatinya, berikan perhatian dan hati kita untuk mereka. Teteskan embun iman dan taqwa pada jiwa-jiwa mereka, jangan biarkan pencuri- pencuri aqidah dan akhlak merebut anak- anak kita, belahan jiwa dan pelanjut perjuangan.

Kepada para pemuda harapan perjuangan, jangan berleha- leha, bergeraklah, belajarlah, berjuanglah. Bangkitkan jiwa Shalahuddin pada dirimu, kobarkan semangat Thariq bin Ziyad dalam sanubarimu.

Kepada para muslimah, tiang negara yang kokoh, kokohkan dirimu dengan aqidah dan akhlak mulia, jadilah ibu yang hadir dalam jiwa anaknya dengan iman dan jihad, jadilah istri yang setia dan pelabuhan jiwa bagi suami anda hingga biduk rumah tangga indah berlayar ke pulau kebahagian, jadilah pejuang dakwah yang tangguh dalam kelembutanmu.

Kepada pemerintah dan para tampuk pimpinan negeri ini, ketahuilah bahwa dunia ini sementara. Waktu yang Allah berikan juga terbatas, maka berbuatlah untuk kebaikan dan kemaslahatan negeri, jangan sia-siakan amanah rakyat. Bertaqwalah kepada Allah, karena itulah jalan keselamatan. Jadikanlah tuntunan Syariat sebagai petunjuk menjalankan amanah itu, karena jika tidak kehancuran dunia dan akhirat adalah akibatnya.

Kepada segenap manusia-manusia tangguh, para pejuang dakwah dan pengusung kebenaran, tetaplah di jalan ini, istiqamahlah walau dunia sangat gemerlap menggoda.

Jangan sampai ukhuwah dan cinta di antara kita tercabik oleh kegersangan jiwa.

Maka bersimpuh dalam ibadah kepada Allah semoga meretas asbab kebersamaan yang sejati dan abadi hingga Syurga Ilahi.

Sumber:wahdah.or.id

Tinggalkan Balasan