Modus Dosen Unila Bergelar Doktor Cabuli Mahasiswi saat Bimbingan Skripsi, Sampai Tiga Kali

Gambar Ilustrasi

Poskonews.com–Modus Dosen Unila Bergelar Doktor Cabuli Mahasiswi saat Bimbingan Skripsi, Sampai Tiga Kali

Oknum dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung Chandra Ertikanto (58) menjalani sidang perdana kasus dugaan asusila di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Bandar Lampung, Kamis (27/9).

Chandra duduk di kursi pesakitan PN Tanjungkarang atas dugaan melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswinya berinisial D (21).

Chandra yang memakai setelan kemeja warna putih, celana dasar warna hitam, serta kopiah tampak tertunduk di kursi terdakwa sebelum berjalannya sidang.

Begitu majelis hakim membuka sidang, Nirmala Dewita selaku ketua majelis hakim meminta awak media keluar dari Ruang Candra, tempat berlangsungnya sidang tertutup kasus dugaan asusila tersebut.

Sidang tertutup hanya berlangsung sekitar 15 menit, dengan agenda mendengarkan pembacaan surat dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum Kadek Agus Dwi Hendrawan.

Setelah sidang selesai, oknum dosen Chandra Ertikanto yang bergelar doktor itu langsung meninggalkan ruang sidang.

Ia tampak melangkah cepat. Awak media pun tak berhasil mewawancarainya.

Dalam surat dakwaan terungkap bahwa dugaan perbuatan asusila oleh dosen Chandra terhadap D terjadi sebanyak tiga kali.

Peristiwa itu berlangsung di kampus ketika D hendak melakukan bimbingan skripsi kepada Chandra.

Kadek memaparkan, perbuatan pertama terjadi pada 13 November 2017 di ruangan dosen Chandra.

“Saat itu, terdakwa meminta korban mencari proposal skripsi milik mahasiswa lain sebagai contoh proposal skripsi bagi korban. Setelah korban menemukan contoh proposal, tiba-tiba terdakwa mengambil proposal itu. Namun, saat mengambil proposal, terdakwa dengan sengaja menyentuh bagian dada korban,” jelasnya.

Kemudian peristiwa kedua terjadi pada 29 November 2017. D bersama temannya mendatangi dosen Chandra untuk berkonsultasi terkait skripsi.

Namun, perbuatan serupa terulang lagi. “Korban terkejut atas peristiwa ini,” kata JPU Kadek.

Puncaknya, lanjut JPU Kadek, pada 5 Desember 2017 sekitar pukul 10.00 WIB di ruang dosen Chandra saat D kembali hendak bimbingan skripsi.

Saat D berada di ruangan, beber JPU Kadek, Chandra menutup pintu. Chandra lalu meminta D berjanji tidak marah atas perbuatannya.

Tak hanya itu, jelas JPU, Chandra meminta kepada D untuk mengulangi perbuatannya.

“Namun, korban menolak. Seketika terdakwa marah dan mengancam tidak membantu korban untuk lulus jika tidak memenuhi kemauan terdakwa. Korban tetap menolak dan akhirnya pergi keluar ruangan,” paparnya.

Saat keluar gedung kampus, ungkap JPU Kadek, D menangis dan menceritakan kepada temannya.

D lalu pulang ke rumah dan bercerita kepada orangtuanya.

Keberatan

Alhajar Syahyan, kuasa hukum terdakwa Chandra Ertikanto, menyatakan keberatan atas dakwaan tersebut.

Terkait barang bukti dari pihak penggugat, yakni chat (percakapan) dari aplikasi percakapan, Alhajar memastikan pihaknya juga telah menyiapkan bukti percakapan.

Selain itu, ada pula bukti buku kendali bimbingan skripsi.

“Bimbingannya kan ada 17 kali pertemuan. Tapi, yang dilaporkan dan dipermasalahkan hanya tiga kali. Setelah terjadi pemasalahan itu, masih ada pertemuan-pertemuan berikutnya. Dan, saksi kami ada banyak,” ujarnya.

Alhajar menjelaskan, selama 17 kali pertemuan bimbingan skripsi, terdapat kartu kendali bimbingan yang terdokumentasi.

“Oleh Pak Chandra, itu tidak dihapus. Di-copy (disalin) semua. Kalau sudah penuh, memorinya diganti. Setiap pertemuan juga dikoordinasikan melalui WA (WhatsApp) dan SMS (pesan singkat),” kata Alhahar.

“Kami yakin klien kami akan bebas,” imbuhnya.

Senin Ajukan Pembelaan

TERDAKWA dosen Chandra Ertikanto akan mengajukan eksepsi (pembelaan) pada Senin (1/10) pekan depan.

“Kami ajukan eksepsi, Senin nanti. Untuk sidangnya (lanjutan), Kamis (4/10) depan. Tapi, Senin kami sudah ajukan eksepsi,” kata Alhajar Syahyan, kuasa hukum terdakwa Chandra.

Dalam kasus ini, terdakwa Chandra terancam pasal berlapis. Mulai dari pasal 290 ayat 1 jo pasal 64 ayat 1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, hingga pasal 281 ke-2 jo pasal 64 ayat 1 KUHP.

Sumber : TribunLampung

Facebook Comments