Refleksi Akhir Tahun Pembangunan Rohul, Jangan Terjebak “Kegenitan” Modernitas, Daerah Ini Punya Ciri Khas

PoskoNews.com – Momentum akhir tahun 2018 dapat menjadi bahan renungan dan introspeksi atas capaian berbagai program program pembangunan yang telah, Sedang dan belum dilaksanakan.

Kinerja pembangunan dan perilaku pemangku Negeri di  Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau dengan visi “Menata Kota Membangun Desa” terus  disorot.

Diantaranya adalah soal realisasi pembangunan infrastruktur yang belum maksimal serta perilaku aparatur dalam memberikan pelayanan publik yang masih perlu ditingkatkan.

Hal itu mengemuka dalam diskusi terbatas para Aktivis, LSM, Mahasisws dan organisaai ekstra kampus HImpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) Rohul dengan insan pers di Markas Forum Solidaritas Wartawan (Foswar) Rokan Hulu di Jalan Tuanku Tambusai Pasir Putih, Pasir Pengaraian, Jumat sore (28/12/2018)

Hadir dalam diskusi itu Ketua HMI Rohul, M.Syukri, Aktivis Maulana Saputra Rangkuti, Pimpinan LSM Bara Api Umri Hasibuan, Aktivis mahasiswa, Wicky Yuliandra, Aktivis LSM/Jurnalis, Sudirman, Ketua Foswar,  Yusrizal Thamrin, Jurnalis Riau Terkini, Muhammad Rizal, Jurnalis Tribun Pekanbaru, Dony Kusuma dan lain lain.

“Pengelola pembangunan kita di daerah ini cenderung makin terjebak oleh kegenitan modernitas, padahal negeri Seribu Suluk ini sudah  punya ciri khas,” kata Maulana Saputra, aktivis yang selalu vokal.

Disebutkan Maulana, bahwa kemajuan yang kita inginkan tidak hanya sekadar kemajuan pada aspek fisik materiel semata, tetapi juga perlu diimbangi dengan kemajuan pada aspek mental spiritual

“Pembangunan kita maju pesat tapi sebetulnya belum sebenar-benarnya membangun karena masih melupakan prinsip pelayanan dan pembangunan karakter manusia yang merupakan inti dari sebuah tujuan pembangunan  yang punya ciri khas, “kata Maulana

Dan untuk menggapai hal tersebut, M Syukri menyebut perlu ada kerja keras dan keterlibatan dari semua pihak untuk berkontribusi bagi kemajuan daerah yang disesuaikan dengan posisi dan kedudukan masing-masing.

Syukri yakin dan percaya, semua pihak di daerah ini bisa bersama-sama berupaya menggagas dan menciptakan berbagai program prioritas di tahun 2019 dengan lebih baik lagi.

“Perlu ada kerja keras dan keterlibatan dari semua pihak untuk berkontribusi bagi kemajuan daerah yang disesuaikan dengan posisi dan kedudukan masing-masing,” harapnya.

Syukri berharap semua pihak secara bersama-sama mengambil makna dan manfaat yang maksimal dari kegiatan di tahun 2018 ini, agar di tahun 2019 Rohul dapat semakin sejahtera, maju, dan berkembang sesuai dengan berbagai program-program yang telah direncanakan.

Lalu pertanyaan kritisnya siapakah yang paling diuntungkan dari pembangunan Rohul ini?

Umri Hasibuan mengapresiasi kinerja pemerintah daerah yang telah melakukan upaya upaya program pembangunan infra struktur jalan, jembatan dan gedung, namun solusi atas pengangguran dan keluarga miskin juga harus dituntaskan

“Ada Ironi pembangunan, satu sisi kita mengejar pemenuhan infra struktur, tapi di sisi lain kita jangan melupakan ketersediaan lapangan kerja dan keberpihakan pada anak negeri, sehingga jumlah angka kemiskinan tidak bertambah,” tukas Umri.

Sementara Yusrizal Thamrin menyatakan, Seharusnya pembangunan fisik itu mengikuti nilai atau isi.

“Kita boleh membangun fisik mewah untuk menghargai dan memuliakan isi kualitas kinerja pelayanan, hingga infrastruktur publik yang dibangun mengikuti warna dan kualitas isi yang tercermin dalam disign dan bentuk arsitektur bangunan,” ungkapnya.

Peserta diskusi terbatas di Posko Foswar juga menyoroti agenda mendesak, seperti pengisian posisi Wakil Bupati, Pemilu 2019 dan soal anggota dewan berkualitas serta agenda agenda lainnya. (Rpt)

Facebook Comments