Cerbung,”Cinta Dalam Sunyi”

Cerita Bersambung “Cinta Dalam Sunyi”
Karya Penulis : Komala Atik

“Pulanglah Zar..jangan temui saya lagi..saya gak mau menjadi duri dalam keluarga mu..saya bangga
mengenalmu sebagai laki laki penyayang dan penuh tanggung jawab..jangan pernah berubah Zar..”

Raya berdiri..jilbab panjangnya bergerak gerak di belai angin. Di mata Zar perempuan ini bak bidadari berhati pualam..teramat baik .Zar ikut berdiri..”Saya pulang Ay..saya gak mau kehadiran saya jadi fitnah buat kamu. Saya tau kamu dihormati oleh warga di lingkunganmu..hanya yang perlu kamu tau..hati saya gak berubah padamu
Ay.. Cinta saya gak pernah berubah, terserah kamu mau bilang apa..aku gak bisa membohongi hatiku..”

Raya tersenyum dingin..”Saya faham Zar.. semoga semua akan baik baik saja,jaga Meri dan anak anakmu.. cukuplah saya saja yang merasakan ini’

Tiba tiba Zar merasakan malam ini sangat dingin..hatinya kosong..Pelan laki laki itu melangkah ke mobilnya di ikuti Raya dari belakang.

Sebelum tangannya memutar kontak Raya mendekat ke pintu mobil..
“Jangan temui aku lagi..baik di rumah maupun di area..saya gak mau ada yang tau tentang kita..”bisik Raya.

“Kalau itu mau mu, baiklah Ay..aku akan mencoba menjauhimu..mesti aku gak yakin akan bisa melupakanmu..”

Lagi lagi Raya tersenyum kecut..
“Insyaalllah..lama lama akan terbiasa Zar..”
Zar mengangguk dengan muka berat dan rahang terkatup pertanda menahan desakan perasaan.

Sebelum berlalu Zar mengulurkan tangan ke Raya.Agak ragu tapi akhirnya Raya menerima tangan Zar. Zar menggenggam hangat tangan Raya..seakan berat melepaskan ..

“Selamat malam Ayya..” Raya mengangguk dan mundur beberapa langkah memberi jalan mobil Zar berlalu.

Mobil Zar berlalu menembus malam yang sedikit berkabut. Raya merasa ada yang kosong di pojok hatinya yang paling dalam.
Saat mobil Zar benar benar hilang dalam liuk jalan kebun sawit, perempuan semampai berkulit cokelat itu melangkah masuk kerumahnya.

Raya terduduk di pinggir tempat tidur, melepas jilbab panjang yang menutup sampai ke pinggang lalu menggantungnya di balik pintu kamar. Sesaat Raya nampak terisak seraya menutup muka dengan kedua telapak tangannya.

Ada perasaan bersalah menyelinap diam diam dalam hati saat ia menerima Zar di rumahnya. Raya tak seharusnya memulai karena Zar sudah menjadi masa lalunya. perempuan itu takut membangun perasaannya terhadap Zar. Apa lagi dia tahu Zar masih menyimpan rasa yang sama, rindu yang sama mesti jarak dan waktu sudah terlampau panjang…

Terngiang ucapan gurunya Ustadz Arief saat Raya menceritakan betapa ia tak bahagia dalam pernikahannya dan berharap ia bisa menikah dengan Zar, laki laki yang mencintai dan di cintainya.

Curhatan itu di dengar dengan seksama oleh Sang Guru yang pernah mendidiknya enam tahun di pesantren.

Wajah tua dan keriput Sang Guru terbayang jelas di mata Raya saat ia bicara. “Cinta seperti itu sama seperti berhala yang kamu sembah” tutur ustadz Arief.

“Saat kamu menjalaninya ada harapan indah..ada janji janji indah..bahkan sesuatu yang sulit dan rumit sekalipun akan nampak indah.” lanjutnya.

“Lihatlah anak ku..orang yang sedang dilanda cinta yang begitu…. bicaranya setinggi langit.. hujan badai akan ditempuh, lautan api akan diseberangi..bahkan makan sepiring berdua atau tidur beralaskan koran pun mau asalkan bersama orang yang dicintai, begitu kan nak?”

Raya menunduk semakin dalam
“Kamu tau kenapa bisa begitu?.. karena mereka menyembah cinta itu..tapi tatkala cinta yang begitu di ikat dalam pernikahan yang sah..banyak yang gagal anakku, karena berhala itu terlampau lemah untuk
bertahan pada kenyataan hidup yang sesungguhnya….”lanjut sang guru.

“Tapi….” Bapak faham nak..”ustadz Arief seakan faham saat Raya berusaha membantah ucapannya. “Hiduplah karena Allah..mencintalah karena Allah ..maka Allah akan memberikan yang terbaik dalam
hidupmu…”suara ustadz Arief terdengar sedikit bergetar..

“Kebahagiaan sejati itu dari Allah nak..lupakan berhala berhala itu..hadapkan hatimu semata kepada Allah..yakini bahwa apapun yang terjadi adalah dengan ijin Allah, ikhtiarlah sekuatmu,berupayalah
semampu mu, lalu serahkan semuanya kembali kepadaNya..”suara Ustadz Arief seakan membasuh jantung Raya, ada kesejukan mengalir seiring keyakinan yang muncul bersama nasehat sang guru.

Sebelum Raya pamit pulang kala itu Raya sempat di bisikkan oleh Bu Sofia isteri Ustadz Arief..”Orang yang kehilangan sandal di masjid tak menghalalkan dia mengambil sandal orang lain buat pengganti…”

“Terima kasih ibu, Raya akan pegang nasehat ibu dan ustadz..””Kamu masih muda dan cantik..akan banyak laki-laki yang mengharapkan mu di luar sana..tapi ingat nak.yang terbaik bagimu adalah suami mu” sambung Bu Sofia sambil memeluk Raya dan mengusap usap
punggungnya.

Malam ini semuanya seakan hadir di benak Raya. Saat Rudi mengkhianati pernikahannya dan pergi bersama perempuan lain sama saja seperti seseorang yang kehilangan sandal di masjid, di sana ada puluhan pasang sandal milik orang lain, pilihannya ada pada
diri sendiri, mengambil sandal orang sebagai gantinya atau berusaha mencari sandal yang hilang.

Namun jika tak ketemu jua yakinlah suatu saat Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik..

Pertemuannya dengan Zar saat ini adalah sebuah pilihan yang teramat berat..satu sisi hatinya sangat berharap bisa bersama lagi dengan Zar sementara sisi hati lain menolak karena takut akan murka Allah..

Ya Rab..berulang ulang Raya menghapal kalimat Bu Sofia.. seseorang yang kehilangan sandal.di masjid tak menghalalkan dia mengambil sandal orang lain sebagai gantinya….

Bukan rahasia lagi saat ini banyak teman teman Raya yang menjalani hidup sebagai isteri kedua yang dinikahi secara diam diam sebagai bentuk balas dendam atas pengkhianatan suaminya.

Lalu Zar…? Laki laki itu mendekati kata sempurna dengan perawakan gagah, kekar,kulit sawo matang dan wajah
manis serta termasuk pekerja keras dan pintar.

Apa lagi dengan jabatan yang sekarang di pegang Zar,uang bukanlah persoalan.
Hadir di hadapan Raya dengan segenap rasa sayang dan kerinduan yang tak pernah
pudar,mengaharapkan hidup bersama dengan Raya…oh Rab..mampukah Raya menolaknya?

Sesungguhnya tidak.Dalam benak Raya Zar adalah mimpi mimpinya..hidup dengan orang yang tulus mencintainya, perhatian.romantis..penuh tanggung jawab.dimanja..bla..bla..bla..yang semua itu tak pernah ia dapatkan dari Rudi suaminya.

Bahkan untuk mencukupi kebutuhan keluarga saja Raya harus banting tulang dan melakukan pekerjaan sampingan sepulang mengajar. Raya melakukannya dengan ihlas mesti kadang rasa letih mendera tubuhnya.

Belum lagi urusan rumah yang harus Raya rampungkan sendiri karena Rudi jarang sekali maumembantu. Jalani aja deh, begitu bisik hati Raya kalau sudah teramat lelah dan pekerjaan masih menumpuk.

Tak cukup bersabar dalam kondisi keluarga yang berat Raya harus berulang kali menanggung sakit hati karena Rudi yang tak setia.Berulang kali Rudi kepergok main perempuan dan semuanya berakhir pada pertengkaran yang membuat hati Raya semakin pilu. Rudi menuduh Raya yang tak bisa mengurus suami sehingga suami mencari perhatian di luar.

Bathin Raya menjerit dan berontak, Mulutnya terkatup menyimpan ribuan sumpah pada suaminya..hanya airmata yang mewakili betapa hatinya hancur dengan sikap Rudi.

Apa salah saya..?kurang apa saya..? .mengapa Rudi tega padahal saya sudah korbankan semuanya..? Ratusan tanya
hanya bergumam dalam diam. Teramat sakit. Dua tahun silam saat Rudi pergi meninggalkan Raya dan dua anaknya perempuan semampai berkulit coklat itupun tak putus menangis

Mencoba mencari cari alasan apa yang membuat Rudi tega meninggalkan keluarga demi seorang perempuan..?.. Seperti apakah perempuan yang dipilih Rudi?Bukankah dulu mereka menikah juga atas dasar suka sama suka tanpa paksaan?.bukankah mereka saling mencintai.?

Ooh Rab….Hampir enam minggu Raya mengurung diri di kamar.. hanya menangis dan termenung mengingat suaminya yang pergi tanpa kabar. Pekerjaan sekolah hampir sama sekali tak diurusnya.
Pikirannya kacau.Takut kondisinya semakin memburuk Raya memilih keluar dari sekolah. Anak anaknya juga bingung dengan kondisi Raya.

Sulung Diba yang masih TK nampak murung di samping Raya yang tak berhenti menangis. Gadis kecil itu selalu bertanya “Bunda kok nangis terus? Ayah kapan pulang? kok ayah gak pulang pulang?”

Kalau sudah begitu Raya hanya bisa memeluk Diba sambil terisak. Debi pun begitu..balita dua tahun itu tak mau bermain seperti biasa. Dia hanya mau bersama Raya kemanapun Raya pergi.
Bahkan kalau Raya ke kamar mandi Debi akan duduk diam menunggu di pintu kamar mandi.

Raya merasa separuh hidupnya sudah hilang. Dalam kondisi itu wajah Zar hadir dalam tangisnya. Memasuki Minggu ketujuh Raya menerima pesan singkat dari Rudi lewat ponselnya..”aku sudah
menikah..titip anak anak ya..”Raya terhenyak tapi sudah tak menangis lagi.
Air matanya sudah kering.

Esoknya Raya memperlihatkan pesan singkat itu ke Ustadz Arief. Sang guru hanya mengangguk angguk kecil.
“Kalau dia menikah lagi itu artinya dia berpoligami nak.Bapak tak banyak komen tentang ini karena poligami ada dalam syariat islam.kita harus terima itu.

Namun jika kamu merasa saat dia berpoligami ini ada hak hak mu yang tidak dia tunaikan, sampaikan keberatanmu kepada walimu..karena perempuan itu punya wali..lalu musyawarahkan cari jalan tengah yang terbaik.”begitu pesan bijak sang guru.

Begitulah yang Raya lakukan, namun mediasi tak menghasilkan kata sepakat yang diharapkan sehingga Raya memutuskan membawa pernikahannya ke Pengadilan.

Sesuatu yang sangat berat bagi Raya.
Apa lagi menyandang status sebagai janda yang oleh banyak orang di cap negatif.
Bismillah saja mungkin ini yang terbaik buat saya dan anak anak.bisik hatin Raya.
“Apa doa doa yang kamu lantunkan saat menikah dulu?”tanya ustadz Arief suatu hari.

“Saya selalu meminta berilah suami yang taat kepada Allah dan Rasulnya menjadi imam baik di dunia sampai syurga”jawab Raya pelan.

“Apakah kamu mendapatkan hal yang demikian dari Rudi?”tanyanya lagi
Raya terperangah dengan pertanyaan gurunya kali ini.

Namun dia harus jujur toh sedikit banyaknya ustadz Arief tahu persoalan keluarganya.Raya menggeleng
kecil..”Nggak pak”jawabnya

“Nah itulah sebabnya dia pergi meninggalkanmu karena dia bukan imam yang baik bagimu.Dan itu cara
Allah mengabulkan doa doamu nak…teruslah meminta kepadaNya agar hatimu selalu di jaga dalam kebaikan,”kata ustadz Arief.

Raya mulai faham, apa yang selama ini dia dengar dari ustadz Arief pelan pelan membuka matanya pada kenyataan hidup..tentang cinta yang di anggap berhala.. benar sekali..cinta yang begitu takkan bertahan karna pondasinya lemah..tidak mengikutkan Allah..

Rudi memang kurang baik menjaga agama,tanggung jawabnya kurang..di tambah lagi kondisi ekonomi yang sulit cinta Rudi kandas…

Satu tahun kepergian Rudi adalah masa masa sulit bagi Raya.psikologi Raya goncang..sakit hati..malu..kecewa berbaur jadi satu. Suport guru dan teman teman baiklah yang membantu Raya bertahan.

Setelah putus perkara di pengadilan Raya memulai hidup baru sebagai orang tua tunggal bagi sepasang anaknya.

Ada semangat baru yang mulai hadir Ya..Raya harus bangkit.Di mulai dari membangun kemandirian anak
anaknya, menghubungi kontak teman temannya yang sudah setahun off,Raya mulai meminta job kerja kepada sahabat sahabatnya

Mereka menyambut baik bangkitnya Raya dari keterpurukan keluarga,”Saya dah risign dari sekolah bantu bagi job ya.”begitu Raya mengirim pesan ke kontak teman temannya.

Satu persatu job kerja mulai mengalir,dari MC berbagai event.nara sumber seputar parenting karena Raya punya basic sarjana pendidikan anak usia dini juga mengisi pengajian pengajian.

Jika job kosong Raya ikut kerja sebagai buruh harian di perkebunan sawit,ini yang paling berat karena Raya tak biasa bekerja dengan tenaga besar. Benar kata Zar kalau dia tak terlatih sebagai pekerja berat.Tapi bagi Raya tak ada masalah, coba saja
dulu. Perempuan itu punya mimpi besar maka dia harus produktif.

Mimpi itu dia bangun kuat di dasar hatinya.Raya mulai menemukan irama hidupnya, anak anaknya juga
mulai manikmati hari hari ceria di sekolah dan di rumah. Orang orang di sekeliling Raya ikut memperhatikan perubahan Raya. Ekonomi yang mulai bangkit, senyum yang tak lepas dari bibirnya, kegiatan yang full dari hari ke hari.

Raya bahkan bisa merehap rumah dan membangun teras.Diam diam Raya menjadi perhatian banyak orang.

Beberapa di antaranya secara terang terangan datang menyampaikan bahwa merekaMenolak halus dengan berbagai alasan.

Saat melihat Rudi pertama kali di area kerja, sejujurnya Raya seperti melayang, kakinya bagai tak berpijak di bumi,tak sanggup menatap Zar yang begitu menawan, duh Rab…Mengapa begitu sulit?

Mengapa tak semudah Yanti yang menikah diam diam dengan Suryo mantan pacarnya saat suami Yanti pergi dengan wanita lain? Atau semudah Aini yang menjadi isteri kedua seorang pejabat karena suaminya meninggal ? Atau seperti…?..”Karena kamu bukan mereka nak..kamu perempuan yang tahu ajaran tuhanmu..menjalani hidup yang
layak dalam kerangka beragama dan bernegara.

Kalau memang Zar mencintaimu dalam agama maka ia akan menikahimu dengan cara yang di atur agama.” Begitu jawab ustadz Arief saat Raya menceritakan
perihal Zar.

“Kalau Zar menikahimu atas dasar cinta semata tanpa dasar agama, maka cinta yang begitu takkan bertahan lama, “lanjutnya.

“Poligami itu dilakukan oleh suami atas permintaan isteri. Karena si isteri memahami kondisi dan kemampuan suami, itu baru benar. Kalau menikah diam diam kebanyakan akan menyakiti salah satu pihak”titah sang guru.

“Allah hendak memuliakan laki.laki dan perempuan dengan poligami, tapi karena tidak sesuai syariat banyak perempuan dan laki laki yang terhina karena berpoligami..”

Waw…Raya semakin faham sekarang kenapa banyak perempuan menolak di poligami, termasuk dirinya yang menolak dimadu karena tak yakin bisa hidup bersama dengan bahagia.

“Ngasih makan istri satu saja tak beres apalagi isteri dua wah..”begitu pikir Raya saat itu.

Pergulatan hidup Raya yang keras tak membuat Raya mengeluh. Hari ke hari Raya belajar bagaimana memaknai hidup yang bersandar pada ketentuan Allah yang maha mengatur.

Jodohnya dengan Rudi memang sudah di tuliskan sampai di situ.Karenanya Allah melatih agar Raya bisa bekerja dan hidup mandiri.Terbiasa mengurus dan mengatur tugas rumah tugas sekolah mengurus anak dan mengurus suami sendirian.

Ketika Rudi benar benar pergi Raya tak kaget lagi menghandle semuanya.Bahkan Raya punya banyak waktu untuk membaca Alquran dan shalat malam,yang saat bersama Rudi jarang sekali dia lakukan.

“Itu sangat bagus nak..datangi Dia dalam sunyi..cintai Dia dalam sunyi..panggil Dia di sepertiga malammu, kamu akan menemukan kedamaian” Begitu pesan indah sang guru.

Handphone Raya bergetar,sebuah pesan masuk dari Zar, “Assalamualaikum Ay.. sampai detik ini aku belum mampu melupakanmu Ay..”

Sebuah Poto diri Zar dengan muka sendu muncul di layar Handphone.Raya menarik nafas berat lalu menghembuskan pelan pelan..

Jari jemarinya menari di atas layar seakan mengelus lembut wajah manis Zar..
Raya bingung mau menulis apa….

Bersambung..

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.