Cerbung Bag 4,”Cinta Dalam Sunyi”

** Cinta Dalam Sunyi **
——-Bagian Ke 4.. (Penulis KOMALA ATIK)

Rumah dinas yang rapi dan apik tak mampu membuat Zar tenang. Sang Asisten hanya termenung di depan laptop yang masih menyala tanpa melakukan apapun.Malam semakin beranjak naik menuju tengah malam.

Suasana komplek perumahan mulai sepi. Zar menghirup kopi terakhir yang menemaninya membuat laporan kerja.
Laki laki itu menjambak rambutnya prtanda hatinya gelisah.

Tiap sebentar tangannya meraih handphone untuk memastikan pesan masuk dari Raya.

Tiap kali pula ia letakkan dengan raut kecewa. Zar melihat kalau pesannya dibaca tapi kenapa Raya tak mau membalas?

Marahkah dia..? atau Raya benar benar tak mau bertemu dan bicara lagi mesti lewat telpon..?

Atau jangan jangan Raya benci karena menganggap aku tak setia?.Tanya demi tanya berputar putar di benak Zar membuat wajah Zar bertambah kusut.

Pernikahannya dengan Meri bukanlah sebuah bentuk pengkhianatan cinta terhadap Raya. Saat itu kala Zar harus pindah ke Kota Medan Zar menemui Raya dan berniat melamar gadis yang sudah lama dekat dengannya.

Sejatinya saat itu adalah saat yang ditunggu oleh Raya. Hidup bersama Zar. Namun konsekwensinya Raya harus ikut Zar pindah ke kota Medan meninggalkan ayah yang sudah tua yang selama ini tinggal bersama Raya karena saudara Raya yang lain tinggal berjauhan.

Mereka di hadapkan pada pilihan yang teramat berat. Zar juga dapat mengerti kondisi Raya sebagaimana Raya memahami kondisi Zar bahwa kekasihnya itu harus bekerja di Medan sesuai permintaan ayahnya yang juga sudah sangat tua dan berharap di sisa umurnya berkumpul dengan anak laki laki satu satunya.

Akhirnya Raya dan Zar memutuskan menjalani hidup masing masing tanpa ada janji dan ikatan karena tak satupun yang bisa memastikan apa yang terjadi kedepan.

“Simpanlah cincin ini Ay, sebagai kenangan kita pernah bersama. Ini bukan cincin ikatan sebab saya tak mau berjanji apapun saat ini saya hanya pasrah pada Allah andai memang kita berjodoh pasti ada jalan untuk bersama.

Jika tidak mungkin itu yang terbaik. Hanya saja saya ingin kamu mengerti Ay, saya sangat mencintaimu. saya berat meninggalkanmu,”. Begitu Zar pamit saat akan meninggalkan Raya.

Raya terisak saat Zar memasangkan cincin ke jari manisnya.Tak satupun kata keluar dari bibirnya yang bergetar menahan gejolak hati yang terasa penuh.

Lama keduanya terdiam hanya menunduk memandang tanah yang lembab sehabis hujan.

“Semoga semua akan baik baik saja..kita berjauhan atas pertimbangan ingin merawat orang tua.. Bukankah itu hal yang baik. Zar? “Raya bicara pelan.Zar pun mengangguk.

“Saya yakin Allah akan memberi kebaikan untuk sesuatu yang baik”lanjut Raya.

“Yahhh….semoga ” sambut Zar pasrah. Lalu keduanya terdiam lagi hanyut dengan perasaan masing  masing sampai Zar mengantar Raya pulang dengan motornya

Sepanjang jalan tak satupun kata terucap, padahal biasanya Zar paling heboh kalau mereka bertemu, apalagi jalan jalan, selalu ada saja bahan pembicaraan bahkan kadang Zar membuat teka teki konyol
yang jawabannya tak pernah bisa di tebak Raya karena jawabannya pasti gak masuk akal.

Kalau sudah begitu Raya akan pura pura merajuk dan memukul Penggung Zar lalu keduanya tertawa lepas.

Tapi saat itu keduanya seakan kehabisan kata.Sampai depan pintu rumah Zar langsung mohon pamit pada ayah Raya karena harus kemas barang besok pagi pagi akan berangkat.

“Aku sayang kamu Ay..”untuk kesekian kalinya Zar mengulang kalimat itu.Raya tak meragukan itu.

“Andaikan saat kita jauh ada yang melamarmu dan kamu merasa cocok, menikahlah Ay,” suara Zar terdengar serak.

Raya merasa nyeri di ulu hatinya mendengar kalimat Zar karena Raya tahu Zar juga tersiksa dengan keadaaan ini.  Zar hanya mencoba berbesar hati menerima kenyataan.

Jangan putus berdoa Zar semoga kita masih bisa bertemu lagi,”, hanya itu yang terdengar dari bibir Raya saat pertemuan terakhir mereka.

Zar masih menunggu kabar dari Raya dengan segenap harapan Raya masih mau membalas chatingannya. Jam sudah menunjukkan angka satu dini hari.

Di tempat lain Raya juga tengah menatap layar handphone dengan wajah bingung. Sesekali nampak ia mengetik beberapa kata, membacanya lalu menghapus kembali. Berulang kali Raya melakukannya seakan tak yakin dengan jawaban yang akan dikirim kepada Zar.

Gugup, gelisah rindu dan malu berbaur jadi satu membuat Raya semakin salah tingkah sendiri. Sejenak Raya mendekap handpone ke dada dengan kepala menengadah keatas dan mata tertutup seperti sedang mengumpulkan segenap kekuatan dan kepasrahan. Barulah ia mulai membuka layar handphone.

“Waalaikumussalam Zar.”tulis Raya setelah mengumpulkan kekuatan batinnya. Selanjutnya kalimat kalimat panjang mengalir dan terkirim ke handphone Zar.

“Saya tak tau harus memulai dari mana Zar. saya juga tak tau harus bahagia atau mengutuk pertemuan kita ini..jangan pula kamu tanya tentang hati perempuan yang pernah kamu sayang dan kamu jaga
dengan tulus lalu terluka oleh laki laki lain.

Tanpa aku cerita pun kamu pasti sudah membayangkan betapa sakit dan pedihnya,”Raya berhenti sesaat.

“Tapi hidup bukan hanya soal hati, ada banyak hal yang terkait dalam hidup yang pastinya tak lepas dari catatan tuhan” Raya melihat pesan pesannya langsung dibaca Zar pertanda Zar belum tidur sampai selarut ini.

“Zar..tak ada yang salah dengan perjalanan hidup kita..semua sudah di atur oleh yang maha pengatur. Ada banyak hikmah yang Allah titipkan dari cerita kita”

“Begitupun rasa sayang yang masih ada dalam hati kita hingga detik ini…rasa itu adalah karunia Allah..kita patut bersyukur karenanya jagalah rasa cinta dan sayang itu dalam porsi yang Allah ridho..

Jangan sampai dengan alasan cinta kita melanggar apa yang Allah gariskan” Raya mengklik tanda mengirim.

Sejurus kemudian muncul balasan dari Zar.
“Aku tak bisa berhenti memikirkanmu Ay.. sekarang kita sudah bertemu..aku ingin bersama mu Ay..ku mohon kamu mengerti Ay..” begitu tulis Zar.

“Maksudnya Zar”. Raya bertanya untuk memastikan saja karena sesungguhnya perempuan cerdas itu sudah bisa menebak maksud Zar.

“Kita menikah Ay..”..

Oh Rab.. Dada Raya berdesir membaca jawaban Zar mestipun ia sudah bisa menduga akan hal itu.

“Bagaimana dengan Meri..?”

“Ay..dia jauh kan Ay..?.paling juga sebulan sekali kami bertemu kalau anak anak libur atau saya pulang kampung.Jadi Meri amanlah..”begitu Zar meyakinkan Raya bahwa mereka bisa menikah tanpa
sepengetahuan Meri.

Semuanya akan baik baik saja dan Raya tak perlu bekerja lagi apalagi sampai ikut
kerja harian di area, terlalu berat bagi Raya begitu kata Zar. Raya terdiam.Jemarinya berputar putar liar di atas layar Handphone tanpa berniat mengetik.

Zar…bibir Raya bergetar menyebut nama Zar.Wajah manis bahkan wangi parfum Zar memenuhi kamar Raya..Tiba tiba Raya merasa Zar begitu dekat.. dekat sekali.
Perempuan itu mendekap handphone ke dada lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur seraya menutup kelopak matanya

Auzar Nasution..kembali Raya menyebut nama laki laki manis yang tiba tiba hadir memenuhi angannya. Menikah dengan Zar..apa yang harus ia ragukan? Bukankah itu adalah mimpi Raya? Zar baik.. Zar mencintainya mestipun Raya tak gadis lagi. Zar mapan dan berkecukupan. Dulu mereka di pisahkan oleh takdir dan sekarang mungkin takdir jua yang mempertemukan.

Nampak senyum tipis membingkai di bibir Raya yang manis.Meskipun jadi isteri kedua bukan masalah yang penting Zar bertanggung jawab dan benar benar menyayanginya..

Handphone Raya bergetar.Sebuah pesan masuk dari Zar.”Gimana Ay”.. kamu mau kan sayang…?”

Oh Rab..Raya melambung dengan panggilan sayang Zar.

— B e r s a m b u n g….

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.