Perusahaan listrik milik negara (PLN) mengatakan bahwa dibutuhkan 25 miliar USD untuk membangun jaringan transmisi yang menghubungkan sumber energi terbarukan di seluruh negeri, yang juga dikenal sebagai jaringan super ramah lingkungan. Proyek ini akan menciptakan jaringan transmisi sepanjang 50.000 km yang menghubungkan banyak wilayah di seluruh negeri.

Seorang pekerja memeriksa panel surya di atas kantor Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, di Jakarta, (Foto: The Jakarta Post)
Seorang pekerja memeriksa panel surya di atas kantor Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, di Jakarta, (Foto: The Jakarta Post)

Jakarta (VNA) – Perusahaan listrik milik negara (PLN) mengatakan dibutuhkan 25 miliar USD untuk membangun jaringan transmisi yang menghubungkan sumber energi terbarukan di seluruh negeri, yang juga dikenal sebagai jaringan super ramah lingkungan. Proyek ini akan menciptakan jaringan transmisi sepanjang 50.000 km yang menghubungkan banyak wilayah di seluruh negeri.

Direktur PLN Darmawan Prasodjo mengatakan jaringan listrik akan memainkan peran penting dalam memungkinkan transisi negara ke sumber energi terbarukan serta mencapai komitmen nol emisi pada tahun 2060.

Menurut Prasodjo, super grid juga akan membuka banyak peluang bagi Indonesia, terutama kemampuan mengekspor listrik ke negara tetangga di Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

PLN memperkirakan setelah selesai, jaringan listrik tersebut akan menghubungkan konsumen dan industri dengan sekitar 19,6 GW energi air, 16,5 GW energi surya, 11,3 GW energi angin, dan 7,1 GW energi panas bumi.

Perusahaan juga berupaya memobilisasi sumber energi lain seperti bioenergi dan energi baru.

Direktur Jenderal Energi Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Dadan Kusdiana mengatakan untuk memanfaatkan sepenuhnya potensi energi terbarukan, Indonesia memerlukan sistem infrastruktur yang memadai untuk didistribusikan ke seluruh tanah air. Membangun jaringan super menjadi semakin penting untuk bertukar sumber daya, menghubungkan pemasok, dan memenuhi permintaan di pulau-pulau besar.

Data dari kementerian menunjukkan bahwa sumber energi terbarukan hanya menyumbang 13% dari total energi negara pada tahun lalu, dan sisanya disediakan oleh batu bara, minyak dan gas./.

Sumber