ISEA memulai debutnya di Bursa Efek Indonesia | INSIDER

PT Indo American Seafoods (ISEA) meluncurkan penawaran umum perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari Selasa, dengan sahamnya dibuka 16,80 persen lebih tinggi pada harga Rp294 per saham.

ISEA merupakan perusahaan ke-29 yang melantai di BEI tahun ini. Perusahaan barang konsumsi nonsiklis ini menggandeng KB Valbury Sekuritas sebagai penjamin emisi dan manajer utama untuk IPO-nya.

Pasca pembukaan, harga saham ISEA berfluktuasi dan bertahan di level Rp290 per saham. Volume perdagangan perusahaan pengolahan hasil laut ini mencapai 38,35 juta lembar saham dengan nilai transaksi Rp10,93 miliar, sehingga kapitalisasi pasar perusahaan mencapai Rp403,10 miliar.

ISEA menawarkan 290 juta lembar saham atau setara dengan 20,86 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga nominal Rp50 dan harga penawaran Rp250 per lembar saham. IPO ini diharapkan dapat meraup dana sekitar Rp72,50 miliar.

Selain itu, perseroan akan menerbitkan Waran Seri I sebanyak 145 juta lembar atau sebesar 13,18 persen dari total saham yang diterbitkan, dengan nilai yang diharapkan dari pelaksanaan waran tersebut sebesar Rp32,48 miliar.

Ibnu Syena Alfitra, Direktur Utama Indo American Seafoods, menekankan potensi besar Indonesia untuk memperluas perdagangan makanan laut secara global, mengingat melimpahnya sumber daya laut baik dari perikanan tangkap maupun budidaya.

“Hal ini dibuktikan dengan nilai ekspor perikanan Indonesia yang mencapai US$2,8 miliar sepanjang Januari hingga Juni 2023 dengan komoditas ekspor utama udang, utamanya ke Amerika Serikat (70 persen) dan Jepang (19 persen),” kata Alfitra.

Kepala Bagian Keuangan ISEA, Ibnu Surya Ramadhan, mengatakan pemerintah menargetkan produksi udang nasional mencapai 2 juta ton pada 2024. Untuk mencapai target tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah menggalakkan model budidaya udang terpadu dan revitalisasi tambak udang.

Sejalan dengan target dan program pemerintah, ISEA memastikan produknya memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan persyaratan negara tujuan ekspornya.

Diuntungkan oleh penguatan dolar, 98,5 persen pendapatan ISEA berasal dari ekspor, sementara biaya operasional dalam rupiah, mendukung kinerja keuangan perusahaan.

“Dengan kondisi yang menguntungkan ini, manajemen optimis dapat mempertahankan kinerja keuangan perusahaan di masa mendatang,” kata Ibnu Surya.

Dana bersih dari IPO akan dialokasikan sepenuhnya untuk keperluan modal kerja. Secara spesifik, 90 persen akan dialokasikan untuk pembelian bahan baku langsung (termasuk udang) dan bahan pembantu (seperti karton induk, polybag, baki, tepung, dan bahan tambahan pangan) dari pemasok perorangan dan perusahaan, 5 persen lainnya untuk biaya penjualan dan pemasaran, dan 4,85 persen untuk biaya pemeliharaan dan utilitas.

Sisanya untuk kebutuhan kantor, termasuk pembelian dan penggantian peralatan elektronik dan perlengkapan kantor lainnya yang diperlukan.

Selain itu, hasil dari Waran Seri I akan digunakan untuk modal kerja, khususnya untuk pembelian bahan baku langsung dan tambahan.

ISEA juga berencana untuk membagikan dividen tunai setidaknya satu kali dalam setahun, dengan pembayaran maksimum sebesar 30 persen dari laba bersih untuk tahun fiskal yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2024, yang akan dibagikan pada tahun 2025.

Sumber