Pertumbuhan industri logam Indonesia melampaui sektor lain | INSIDER

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melaporkan pertumbuhan signifikan industri logam di tanah air, melampaui sektor lain, berkat hilirisasi bahan baku.

“Industri logam tumbuh 11-18 persen pada kuartal I, jauh melampaui sektor lainnya. Ekspor logam meningkat dari 8,74 persen menjadi 16,74 persen. Capaian ini tentu berkat hilirisasi,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu, 10 Juli 2024.

Airlangga menyoroti tonggak sejarah industri, dengan mencatat keberhasilan Indonesia mengekspor 130 turbin angin ke New York, AS.

“Ini adalah turbin angin pertama yang dipasang di utara Long Island, 15 hingga 20 mil lepas pantai, dengan kapasitas yang direncanakan sekitar 2,1 gigawatt. Ini merupakan terobosan, karena turbin ini diproduksi di Batam, Indonesia,” katanya.

Selain turbin angin, Indonesia juga mengekspor struktur baja ke Sydney, Australia, dan Selandia Baru.

“Ini merupakan terobosan yang luar biasa dan menunjukkan bahwa baja kita kuat dan diakui oleh banyak negara di dunia,” kata Airlangga.

Menteri tersebut mengutip produsen baja milik negara, Krakatau Steel, dan produsen baja Korea Selatan, POSCO, yang telah mengembangkan peta jalan untuk meningkatkan produksi baja dari 10 juta ton menjadi 20 juta ton. Permintaan baja juga diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar 18 hingga 19 juta ton.

“Produksi biasanya perlu didahulukan dari permintaan, karena jika tidak, kesenjangan akan diisi oleh impor yang kurang diminati,” kata Airlangga.

Pertumbuhan yang mengesankan dan perencanaan strategis ini menggarisbawahi posisi kuat Indonesia dalam industri logam global dan komitmennya untuk meningkatkan kapasitas produksi dan ekspor.

Sumber