Wings Air (Indonesia) (IW, JakartaSoekarno-Hatta) telah memarkir tiga puluh turboprop ATR (dari 73) karena bea masuk yang tinggi, terutama untuk pengadaan suku cadang pesawat, menurut Daniel Putut Kuncoro, presiden direktur Grup Lion Air.

Pertama kali diberitakan oleh surat kabar Indonesia Kompas, beberapa ATR sedang dalam perawatan atau tidak memiliki mesin. Itu armada penerbangan ch modul menunjukkan bahwa Wings Air memiliki armada tujuh puluh tiga ATR – Avions de Transport Regional turboprop, termasuk sembilan belas ATR72-500s (tujuh di antaranya tidak aktif), dan lima puluh empat ATR72-600s (dua puluh tiga di antaranya tidak aktif).

Karena biaya operasional yang tinggi, Lion Air Group memilih untuk memindahkan beberapa pesawatnya ke negara lain yang tidak terlalu membatasi dan lebih murah, seperti Malaysia dan Thailand, dimana entitas induknya memiliki Batik Air Malaysia (OD, Kuala Lumpur Internasional) Dan Lion Air Thailand (SL, Bangkok Don Mueang) sebagai anak perusahaan. “Biaya operasional di sana lebih murah dibandingkan terbang di Indonesia,” kata Daniel saat focus group Discussion yang digelar harian tersebut.

ch-aviation telah menghubungi Lion Air Group untuk memberikan komentar.

Direktur Komersial Lion Air Group Saleh Alatas mendesak pemerintah Indonesia untuk melonggarkan pajak impor suku cadang pesawat, dan menambahkan bahwa ada negara-negara tetangga yang tidak mengenakan biaya impor suku cadang karena penerbangan dipandang sebagai tulang punggung perekonomian.

Sumber